Saturday, October 25, 2025

Dari Pola Pikir Tetap ke Pola Pikir Bertumbuh: Menjadi Guru yang Menyalakan Semangat Belajar Murid


Menjadi Guru yang Menyalakan Semangat Belajar Murid (Sumber: Whisk)

Perubahan cara berpikir dimulai dari keberanian untuk melihat diri sendiri secara jujur. Di ruang kelas, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penyalur energi yang menentukan apakah murid berani mencoba atau takut gagal. Inilah saatnya kita bergerak dari Pola Pikir Tetap (PPT) menuju Pola Pikir Bertumbuh (PPB), dari takut gagal menjadi berani belajar.

 

Dalam konsep pembelajaran mendalam (deep learning), guru berperan bukan lagi sebagai pusat pengetahuan, melainkan sebagai activator, collaborator, dan builder learning culture. Tiga peran ini menuntut guru untuk menyalakan rasa ingin tahu murid, membangun kolaborasi, serta menciptakan budaya belajar yang penuh semangat dan keberanian untuk tumbuh.

Namun, semua itu sulit dilakukan jika guru masih terjebak dalam Pola Pikir Tetap cara berpikir yang menganggap kecerdasan dan kemampuan bersifat permanen. Untuk itu, Prof. Carol S. Dweck dari Stanford University melalui situsnya mindsetworks.com menjelaskan empat langkah sederhana yang dapat membantu seseorang beralih dari PPT ke PPB:

  1. Belajar mengenali suara PPT. Sadari pikiran negatif yang muncul ketika menghadapi kesulitan. Misalnya, “Saya tidak mampu melakukannya.”
  2. Sadari bahwa kita punya pilihan. Kita bisa memilih untuk tetap terjebak dalam ketakutan, atau mengambil langkah kecil untuk mencoba.
  3. Berbicara kembali dengan suara PPB. Ubah narasi dalam diri menjadi lebih positif: “Saya belum bisa sekarang, tapi saya bisa belajar.”
  4. Ambil tindakan sesuai suara PPB. Bertindaklah meski ragu. Karena tindakan adalah bukti nyata dari perubahan cara berpikir.

Contoh sederhana:

  • Suara PPT: “Kalau saya gagal berarti saya tidak mampu.”
    Suara PPB: “Kalau saya gagal, berarti saya perlu mencoba lagi.”
  • Suara PPT: “Kesalahan membuat saya terlihat lemah.”
    Suara PPB: “Kesalahan adalah bagian dari proses belajar.”

Guru yang memahami perbedaan dua jenis suara ini akan mampu menuntun murid melewati rasa takutnya. Ia tidak lagi menilai kegagalan sebagai akhir, tetapi sebagai bagian penting dari proses belajar.

 

Menjadi guru yang berjiwa growth mindset berarti terus belajar, bahkan dari kegagalan kecil di ruang kelas. Kita mungkin tidak selalu bisa mengontrol hasil belajar murid, tetapi kita bisa mengubah cara kita merespons prosesnya. Karena sesungguhnya, guru yang bertumbuh akan melahirkan murid yang juga berani tumbuh.

Friday, October 24, 2025

Pola Pikir Bertumbuh: Kunci Mengubah Cara Kita Melihat Kegagalan dan Kesuksesan

Pola Pikir Bertumbuh (Sumber: Image AI)

Pernahkah Anda merasa gagal lalu berpikir bahwa Anda memang tidak berbakat? Jika iya, mungkin saatnya Anda mengenal konsep Growth Mindset atau Pola Pikir Bertumbuh adalah cara berpikir yang bisa mengubah kegagalan menjadi bahan bakar untuk berkembang.

Konsep Pola Pikir Bertumbuh pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Carol S. Dweck, seorang profesor psikologi dari Universitas Stanford. Dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success, ia menjelaskan dua jenis pola pikir manusia: Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset) dan Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset).

  • Pola Pikir Tetap (PPT) adalah keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang bersifat bawaan dan tidak bisa diubah.
  • Pola Pikir Bertumbuh (PPB) sebaliknya, meyakini bahwa kemampuan bisa dikembangkan melalui belajar, usaha, dan ketekunan.

Dweck menguji perbedaan keduanya dalam lima aspek penting kehidupan: tantangan, hambatan, usaha, kritik, dan sukses orang lain.


Orang dengan PPB cenderung menerima tantangan, bertahan dalam kesulitan, menghargai usaha, belajar dari kritik, dan terinspirasi oleh kesuksesan orang lain. Sebaliknya, orang dengan PPT sering menghindar dari tantangan, mudah menyerah, menganggap usaha sebagai tanda kelemahan, menolak kritik, dan merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.

Hasil penelitian ini kemudian diperkuat oleh OECD dalam asesmen PISA 2018. Dari 79 negara, hanya sebagian kecil murid Indonesia yang menunjukkan pola pikir bertumbuh yakni sekitar 1 dari 3 murid. Negara-negara dengan tingkat PPB tinggi memiliki nilai akademik lebih baik. Ini menunjukkan bahwa pola pikir bukan sekadar soal psikologi, tetapi fondasi dari kualitas pendidikan.

Jika kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, maka perubahan harus dimulai dari pola pikir baik guru, siswa, maupun orang tua. Guru bisa menumbuhkan PPB dengan memberikan apresiasi pada proses, bukan hanya hasil. Orang tua bisa mendukung anak dengan kalimat seperti, “Kamu belum bisa, tapi kamu sedang belajar.”

Dengan menanamkan Growth Mindset, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak takut gagal, tetapi siap bangkit dan mencoba lagi. Karena sejatinya, kesuksesan bukan milik yang paling pintar, tetapi milik mereka yang pantang menyerah untuk terus belajar.

Thursday, October 23, 2025

Mengapa Pola Pikir Lebih Penting dari Keterampilan?

Kunci Menuju Kesuksesan (Image AI)

Pernahkah Anda bertanya, mengapa ada orang yang tampak biasa saja tetapi mampu melampaui ekspektasi dan mencapai kesuksesan luar biasa? Jawabannya sering kali bukan pada seberapa banyak keterampilan yang mereka miliki, melainkan bagaimana mereka berpikir. Inilah kekuatan mindset, atau pola pikir — fondasi dari setiap keberhasilan manusia.

Ungkapan “Mindset is Everything” bukanlah sekadar kalimat motivasi kosong. Pola pikir adalah lensa yang kita gunakan untuk melihat dunia, menafsirkan peristiwa, dan mengambil keputusan. Tanpa pola pikir yang tepat, keterampilan sehebat apa pun tak akan bermakna.

Dalam pelatihan BCKS Tahun 2025, modul Penguatan Kompetensi Kepribadian Kepala Sekolah menjelaskan tiga komponen penting dalam diri seorang pemimpin pembelajar: Mindset, Skillset, dan Toolset.

  1. Mindset (Pola Pikir)
    Adalah cara seseorang melihat dan menafsirkan peristiwa — how to see and how to think. Mindset membantu memperluas wawasan dan membuka ruang bagi perubahan.

  2. Skillset (Kumpulan Keterampilan)
    Merupakan kombinasi pengetahuan dan pengalaman yang memperdalam pemahaman seseorang terhadap suatu bidang.

  3. Toolset (Perangkat dan Metode)
    Adalah kumpulan alat atau metode yang mempertajam kemampuan analisis terhadap masalah yang dihadapi.

Ketiga unsur ini saling berhubungan, namun mindset menjadi pondasi utama. Tanpa pola pikir yang terbuka dan positif, keterampilan dan alat tidak akan bekerja efektif. Seorang kepala sekolah, misalnya, bisa memiliki banyak strategi dan pengalaman, tetapi tanpa pola pikir pembelajar, ia akan sulit beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Kita sering mendengar istilah Mindset Over Skillset — sebab dengan pola pikir yang benar, seseorang akan selalu mau belajar, beradaptasi, dan tumbuh. Sebaliknya, tanpa mindset yang tepat, keterampilan bisa stagnan dan kehilangan makna.


Refleksi atau Pesan Akhir:

Pola pikir bukanlah sesuatu yang statis; ia bisa dibentuk, diasah, dan diperkuat. Ketika kita mulai mengubah cara berpikir, maka seluruh arah hidup pun ikut berubah. Seperti pepatah mengatakan, “What you think, you become.”
Jadi, sebelum sibuk mengasah keterampilan, pastikan fondasinya kuat — pola pikir yang benar, positif, dan berorientasi pada pertumbuhan.

Santri Digital: Dari Pesantren ke Panggung Dunia

Santri Digital

Peringatan Hari Santri 2025 dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” mengajak kita menengok masa depan. Jika dahulu santri berjuang dengan bambu runcing dan doa yang mengguncang langit, maka santri masa kini berjuang dengan pena, pikiran, dan jari-jemari yang menari di dunia digital. Dunia telah berubah, dan pesantren pun ikut bertransformasi.

Kini, pesantren bukan lagi tempat yang identik dengan kehidupan sederhana dan terpencil. Banyak pesantren mulai mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar. Santri tidak hanya membaca kitab kuning, tetapi juga belajar coding, desain grafis, komunikasi digital, bahkan kewirausahaan berbasis syariah.

Transformasi ini bukan sekadar adaptasi, melainkan langkah strategis untuk memastikan nilai-nilai Islam tetap relevan di tengah gelombang globalisasi. Santri yang melek digital bukan berarti kehilangan identitas; sebaliknya, mereka memperluas dakwah dengan cara yang lebih cerdas, kreatif, dan berdampak luas.

Santri dan Dunia Digital: Antara Tantangan dan Peluang

Era digital membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia membuka peluang besar bagi santri untuk menebar manfaat tanpa batas. Melalui media sosial, podcast, YouTube, hingga platform edukasi, santri bisa menjadi influencer kebaikan, menyebarkan pesan damai dan ilmu yang mencerahkan.

Namun di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan tantangan. Arus informasi yang cepat sering kali tidak diimbangi dengan literasi yang memadai. Di sinilah peran santri menjadi penting, sebagai penjaga moral dunia maya, pelurus informasi, dan penyampai pesan bijak di tengah kebisingan digital. Santri masa kini tidak hanya perlu tafaqquh fiddin, tetapi juga tafaqquh fid-digital  memahami dunia maya dengan etika, literasi, dan tanggung jawab sosial.

Moderasi Beragama di Dunia Maya

Salah satu peran strategis santri abad ini adalah menjadi agen moderasi beragama di ruang digital. Ketika banyak narasi ekstrem, kebencian, dan hoaks menyebar di media sosial, santri hadir dengan narasi kesejukan.

Mereka tidak membalas dengan amarah, tetapi dengan hikmah. Mereka tidak mempersempit perbedaan, tetapi memperluas pemahaman. Inilah bentuk jihad baru di era digital yakni jihad ilmu, jihad literasi, jihad menebar kedamaian.

Santri digital sejati bukan hanya tahu cara “berdakwah di TikTok” atau “berceramah di YouTube,” tetapi tahu kapan harus berbicara, bagaimana menjaga adab, dan bagaimana menggunakan teknologi untuk menumbuhkan kemaslahatan.

Dari Pesantren ke Peradaban Dunia

Peradaban dunia kini tidak hanya dibangun oleh kekuatan militer dan ekonomi, tetapi oleh kekuatan moral dan intelektual. Santri memiliki modal besar: akhlak, disiplin, dan semangat belajar tanpa henti. Jika nilai-nilai ini dipadukan dengan teknologi dan inovasi, maka pesantren bisa menjadi pusat peradaban baru serta tempat lahirnya ilmuwan yang religius, pebisnis yang jujur, dan pemimpin yang berakhlak. Dari pesantren kecil di pelosok negeri, bisa lahir karya besar untuk dunia. Dari tangan santri, bisa tumbuh solusi bagi kemanusiaan.

Santri Masa Lalu vs Santri Masa Depan

Santri hari ini bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga penulis masa depan. Mereka membangun jembatan antara nilai-nilai lama yang luhur dengan dunia baru yang dinamis.
Mereka menunjukkan bahwa menjadi santri tidak berarti tertinggal, tetapi justru menjadi garda depan perubahan.

Hari Santri 2025 mengingatkan kita Bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa kitab dan keyboard kini sama pentingnya. Bahwa doa dan data bisa berjalan seiring untuk Indonesia yang maju, damai, dan berperadaban dunia.

 

Wednesday, October 22, 2025

Hari Santri 2025: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia

Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional merupakan sebuah momentum yang bukan hanya sekadar upacara atau seremonial belaka, tetapi juga ajakan untuk merenungi jejak sejarah dan menyalakan kembali semangat perjuangan para santri bagi negeri ini.

Tahun 2025, Kementerian Agama RI mengangkat tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, sebuah kalimat yang sarat makna dan menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.

Jejak Sejarah yang Tak Pernah Padam

Hari Santri tak bisa dilepaskan dari peristiwa besar yang mengguncang jiwa bangsa pada 22 Oktober 1945. Di tengah ancaman kembalinya pasukan sekutu, pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, mengeluarkan Resolusi Jihad yang merupakan sebuah seruan suci yang menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajahan adalah kewajiban setiap umat Islam.

Fatwa itu menjadi api penyulut semangat perjuangan rakyat dan santri. Mereka berduyun-duyun angkat senjata, mempertahankan kemerdekaan dengan keyakinan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman). Dari semangat inilah kemudian lahir pertempuran besar 10 November 1945 di Surabaya, yang menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil pengorbanan dan keberanian.

Tema Hari Santri 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” seolah menghidupkan kembali dua sisi sejarah itu.
Pertama, mengawal kemerdekaan adalah tugas yang telah dijalankan santri sejak 1945. Kedua, menuju peradaban dunia adalah panggilan baru bagi santri masa kini untuk membawa nilai-nilai luhur pesantren ke panggung global melalui ilmu, moral, dan teknologi.

Tiga Pelajaran dari Api Perjuangan Santri

Perjalanan panjang para santri menyimpan banyak hikmah yang tetap relevan hingga kini.

1. Iman dan Nasionalisme yang Tak Terpisahkan. Santri membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak bertentangan dengan menjadi warga negara yang patriotik. Keimanan justru memperkokoh semangat kebangsaan. Di tengah tantangan global dan ideologi yang mencoba memecah belah, nilai ini menjadi benteng moral yang harus terus dijaga.

2. Ketangguhan dan Kemandirian sebagai Karakter Utama
Dari kehidupan sederhana di pesantren, para santri ditempa menjadi pribadi yang istiqamah, tangguh, disiplin, dan berpegang pada nilai-nilai kebaikan. Keteguhan inilah yang kini dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang berubah cepat, dari arus digitalisasi hingga tantangan sosial yang makin kompleks.

3. Peran Ganda: Religius dan Sosial
Santri bukan hanya ahli agama. Mereka juga pelaku sosial yang aktif dalam berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga pemerintahan. Mereka belajar untuk tafaqquh fiddin (mendalami agama), tetapi juga khidmatul ummah (mengabdi kepada masyarakat). Inilah makna sejati dari ilmu yang membumi dan berjiwa kemanusiaan.

Menatap Dunia Pendidikan dengan Semangat Santri

Peringatan Hari Santri 2025 menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk menyalakan kembali semangat kebangsaan dan keilmuan.

Pertama, pendidikan karakter kebangsaan harus diperkuat. Nilai-nilai Resolusi Jihad dapat dijadikan inspirasi dalam pembelajaran sejarah, menanamkan pemahaman bahwa keberagamaan tidak memisahkan, melainkan mempersatukan.

Kedua, pesantren perlu bergerak ke arah kompetensi global. Santri masa kini bukan hanya ahli tafsir atau fiqih, tetapi juga harus menguasai teknologi, bahasa, dan inovasi digital. Santri abad ke-21 adalah “generasi digital berakhlak,” yang mampu berdiri tegak di antara perubahan zaman tanpa kehilangan identitas.

Ketiga, santri harus menjadi agen moderasi beragama. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, santri diharapkan tampil sebagai duta perdamaian, pembawa pesan toleransi, dan penjaga harmoni. Semangat Bhinneka Tunggal Ika yang dulu diperjuangkan, kini harus dijaga di ruang kelas, ruang digital, dan ruang sosial.

Santri untuk Indonesia, Indonesia untuk Dunia

Hari Santri 2025 mengingatkan kita bahwa masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dan peran para santri. Mereka adalah penjaga nilai, pelanjut cita-cita, dan pengawal moral bangsa.

Ketika santri berilmu, berakhlak, dan berwawasan global, maka cita-cita untuk membawa Indonesia menjadi bagian dari peradaban dunia bukanlah mimpi melainkan keniscayaan.

Dari pesantren yang sederhana, lahirlah pemimpin yang membangun. Dari lantunan doa di tengah malam, tumbuhlah peradaban yang berakar pada nilai kemanusiaan. Dari semangat Hari Santri, kita belajar bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi bebas untuk terus belajar, berjuang, dan menebar manfaat bagi dunia. 

Thursday, October 16, 2025

Konflik di Gerbang Sekolah: Ketika Aturan Ketat Rokok Bertemu Dilema Disiplin Positif


Lingkungan sekolah seharusnya menjadi zona aman dan steril, terutama dari bahaya rokok. Di Indonesia, payung hukum untuk menjamin hal ini sudah kokoh berdiri, yaitu melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah.

Secara fundamental, peraturan ini bertujuan menciptakan ekosistem pendidikan yang bersih, sehat, dan bebas asap, melindungi seluruh warga sekolah—mulai dari Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Kependidikan, hingga Peserta Didik dan Pihak Lain—dari paparan tembakau.

Permendikbud 64/2015 membangun benteng pertahanan total terhadap rokok di seluruh jenjang pendidikan. Poin-poin pentingnya mencakup:
  • Larangan Utama: Seluruh sasaran KTR dilarang keras merokok, memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan rokok di lingkungan sekolah.

  • Kewajiban Lembaga: Sekolah wajib memasukkan larangan rokok dalam tata tertib, melarang penjualan rokok, serta melarang keras pemasangan iklan rokok.

  • Penindakan: Kepala Sekolah diwajibkan menegur dan mengambil tindakan terhadap pelanggar, serta melakukan pembinaan kepada peserta didik yang merokok.

Peraturan ini jelas: Sekolah adalah area mutlak anti-rokok, dan pelanggaran harus ditindaklanjuti.

Kasus penonaktifan sementara Kepala SMAN 1 Cimarga, Lebak, yang menampar siswanya karena ketahuan merokok dan berbohong, memicu perdebatan. Meskipun tindakan kekerasan fisik jelas tidak dapat dibenarkan dan melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA), respons publik perlu meninjau kasus ini dari perspektif guru yang berada di garis depan.

Kepala sekolah dalam kasus ini berada di bawah tekanan besar untuk menegakkan mandat Permendikbud demi melindungi ratusan siswa lain dari bahaya asap rokok dan menjaga integritas aturan. Tindakan "lepas kontrol" tersebut, meski salah, seringkali menjadi simbol dari akumulasi rasa frustrasi dan kelelahan emosional (emotional fatigue) pendidik yang berjuang:

  1. Menjaga Integritas Sekolah: Sekolah telah berulang kali memberlakukan aturan, namun siswa berulang kali melanggar.

  2. Menghadapi Kebohongan: Guru merasa tidak dihargai ketika siswa berbohong dan mengelak saat ditegur, yang seringkali memicu emosi.

  3. Kekurangan Dukungan: Pendidik merasa sendirian dalam menghadapi masalah perilaku siswa yang kompleks, seringkali tanpa intervensi yang kuat dari pihak keluarga.

Maka, semestinya kasus ini tidak hanya fokus pada sanksi bagi guru, tetapi juga pada pemberian dukungan psikologis dan pelatihan manajemen konflik yang memadai. Guru harus didukung untuk menjadi penegak aturan yang tegas, namun tetap profesional dan menggunakan metode disiplin positif. Masyarakat dan pemerintah perlu mengakui bahwa guru adalah manusia yang rentan terhadap tekanan dan memerlukan sistem pendukung yang kuat, alih-alih hanya dipersalahkan atas luapan emosi sesaat setelah kegagalan pembinaan berulang.

Kasus disiplin seperti merokok di sekolah tidak akan tuntas hanya dengan sanksi dari pihak sekolah. Keberhasilan KTR dan pembinaan karakter siswa sangat bergantung pada kemitraan yang solid dan bertanggung jawab dari orang tua.

Ironisnya, dalam kasus tersebut, orang tua merespons dengan melaporkan kepala sekolah ke polisi. Tindakan ini, meskipun merupakan hak hukum, justru menunjukkan pergeseran tanggung jawab yang berbahaya dan berpotensi merusak iklim pendidikan:

  1. Kegagalan di Rumah: Merokok adalah perilaku yang umumnya dimulai di luar gerbang sekolah. Orang tua memiliki tanggung jawab utama untuk mengawasi dan memberikan edukasi bahaya rokok di rumah. Jika anak ketahuan merokok di sekolah, itu adalah indikasi awal bahwa pembinaan di rumah telah gagal atau kurang efektif.

  2. Mendukung Ketegasan Sekolah: Seharusnya, orang tua menjadi mitra sekolah dalam menegakkan Permendikbud. Respons yang ideal adalah mendatangi sekolah, mengucapkan terima kasih atas ketegasan guru, dan bekerja sama dengan Guru Bimbingan Konseling (BK) untuk mencari akar masalah perilaku anak.

  3. Bukan Perlindungan Buta: Melaporkan pendidik atas sanksi disiplin (meski berupa tamparan) tanpa terlebih dahulu melakukan mediasi dan introspeksi, mengirimkan pesan yang salah kepada anak: bahwa aturan boleh dilanggar, dan bahwa konsekuensi bisa dihindari dengan menuntut pihak berwenang. Hal ini melemahkan wibawa sekolah.

Orang tua harus mengubah paradigma dari "pelindung buta" menjadi "mitra pendidik." Mereka harus memfasilitasi Disiplin Positif di rumah, memastikan anak memahami nilai-nilai larangan rokok, dan siap berkolaborasi dengan sekolah dalam pembinaan yang konsisten. Tanpa peran aktif orang tua, Permendikbud KTR akan selamanya menjadi aturan yang rentan dan sulit ditegakkan.

Solusinya terletak pada pergeseran paradigma, dari disiplin berbasis hukuman fisik menjadi Disiplin Positif dan Pembinaan Karakter, didukung oleh kolaborasi orang tua. Pendekatan ini selaras dengan mandat Permendikbud yang menekankan "pembinaan."

Untuk mencegah terulangnya konflik:

  • Perumusan Ulang Disiplin: Sekolah wajib mencari akar masalah perilaku siswa dan menggunakan sistem poin pelanggaran yang jelas, terukur, dan mengutamakan pembinaan, konseling, dan kesepakatan bersama (Disiplin Positif).

  • Pelatihan Wajib Guru: Guru harus diwajibkan mengikuti pelatihan intensif mengenai Pengelolaan Emosi Dewasa dan Teknik Mediasi/Resolusi Konflik.

  • Transparansi dan Konsistensi: Pemerintah perlu menetapkan standar sanksi yang konsisten bagi pendidik yang melakukan kekerasan demi menjamin kepastian hukum, sekaligus memberikan dukungan penuh bagi guru yang berdedikasi menegakkan aturan.

Permendikbud 64/2015 adalah fondasi kuat. Namun, penegakannya harus fleksibel, terukur, dan bermartabat, didukung oleh guru yang terlatih dan orang tua yang bertanggung jawab. Hanya dengan sinergi ini, sekolah dapat menjadi kawasan bebas rokok yang sesungguhnya.

Wednesday, October 15, 2025

Kabar Gembira! Kemdikbud Buka Lagi Bimtek Literasi Angkatan 3: Kuota Terbatas, Segera Daftar Sekarang!


Jakarta, 14 Oktober 2025
— Kabar baik kembali datang untuk para guru di seluruh Indonesia! Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru resmi membuka pendaftaran Bimbingan Teknis (Bimtek) Daring Literasi Angkatan 3.

Setelah dua angkatan sebelumnya menuai antusiasme luar biasa dari ribuan guru SD dan SMP, kini kesempatan kembali dibuka bagi 2.000 peserta terpilih untuk mengikuti pelatihan bergengsi bertema “Penguatan Literasi dan Pembelajaran Mendalam Melalui Lokakarya Membaca.”

Program ini bertujuan untuk memperkuat strategi pembelajaran literasi di sekolah agar lebih kreatif, kritis, dan kontekstual. Melalui pelatihan daring ini, para guru akan belajar bagaimana menumbuhkan budaya membaca dan berpikir mendalam di kelas dengan pendekatan yang menyenangkan dan inspiratif.

📅 Jadwal Penting yang Harus Diperhatikan:

  • Pendaftaran: 22 – 31 Oktober 2025

  • Pelaksanaan Bimtek: 3 – 7 November 2025 (via SIM-PKB)

  • Webinar Modul 3: 5 November 2025 (13.30 – 15.00 WIB)

  • Webinar Modul 5: 7 November 2025 (14.00 – 15.30 WIB)

Bimtek ini tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga mengajak peserta untuk berkolaborasi, berdiskusi, dan mempraktikkan langsung strategi literasi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Melalui kegiatan ini bisa dipastikan bahwa setiap guru memiliki kemampuan mendesain pembelajaran literasi yang mendalam, sehingga siswa bukan hanya membaca, tetapi juga berpikir kritis dan kreatif.

Untuk informasi lebih lanjut, peserta dapat menghubungi Ratna Nurlaila melalui email: ratna.nurlaila@kemdikbud.go.id.

Jangan lewatkan kesempatan berharga ini!
Dengan kuota terbatas hanya 2.000 peserta, segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari guru inspiratif Indonesia yang melek literasi dan siap menggerakkan perubahan di sekolah.