Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajan Berdiferensiasi.
Oleh: Abd. Haris
Dalam kamus besar bahasa indonesia kata
kata dasar berdiferensiasi adalah diferensiasi yang mempunyai makna proses,
cara, perbuatan membedakan; pembedaan. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid melalui pembelajaran berdifernsiasi yang berarti bahwa
pembelajaran dilakukan berdasarkan kebutuhan belajar murid.
A. Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi
Bayangkanlah kelas
yang Anda ajar saat ini. Ingatlah satu persatu murid di kelas Anda.
Bagaimanakah karakteristik setiap anak di kelas Anda? Tahukah Anda apa kekuatan
mereka? Bagaimana gaya belajar mereka? Apa minat mereka? Siapakah yang memiliki
keterampilan menghitung paling baik di kelas Anda? Siapakah yang sebaliknya?
Siapakah yang paling menyukai kegiatan kelompok? Siapakah yang justru selalu
menghindar saat bekerja kelompok? Siapakah yang level membacanya paling tinggi?
Siapakah murid yang masih perlu dibantu untuk meningkatkan keterampilan
memahami bacaan mereka? Siapakah yang paling senang menulis? Siapakah yang
lebih senang berbicara?
Setiap harinya, tanpa disadari, guru dihadapkan oleh keberagaman yang
banyak sekali bentuknya. Mereka secara terus menerus menghadapi tantangan yang
beragam dan kerap kali harus melakukan dan memutuskan banyak hal dalam satu
waktu. Keterampilan ini banyak yang tidak disadari oleh para guru, karena
begitu naturalnya hal ini terjadi di kelas dan betapa terbiasanya guru
menghadapi tantangan ini. Berbagai usaha mereka lakukan yang tentu saja
tujuannya adalah untuk memastikan setiap murid di kelas mereka sukses dalam
proses pembelajarannya.
Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran Berdiferensiasi
adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi
kebutuhan belajar individu setiap murid.Namun demikian, pembelajaran
berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang
berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus
memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang
lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan
yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula
memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi
bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang
gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus,
dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C
dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap
atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda
dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan. Lalu seperti apa sebenarnya
pembelajaran berdiferensiasi?
B. Pembelajaran
Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common
sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.
Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
- Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’
murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang
tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan
selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
- Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan
secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan
pembelajaran, namun juga muridnya.
- Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi
yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk
dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana
yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan
- Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.
Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang
berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
- Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur,
rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur
yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas
tetap dapat berjalan secara efektif.
Manajemen kelas yang
efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang
memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga
walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan
secara efektif
C. Memetakan Kebutuhan Belajar Murid
Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to
Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan
bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak
berdasarkan 3 aspek yakni Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid
dan Profil belajar murid. Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja
yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan
pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika
tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid
(minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja
dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).
1. KESIAPAN BELAJAR
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi
baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa
murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang
tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru
tersebut. Tomlinson (2001) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi
mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk
mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol
equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol”
dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka
untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang
tepat di kelas Anda. Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili
beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat
kesiapan murid. Ada 6 dari beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan
mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson
(Tomlinson, 2001).
A. Bersifat mendasar - Bersifat transformative
B. Konkret - Abstrak
C. Sederhana - Kompleks
D. Terstruktur - Open Ended
E. Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
F. Lambat – Cepat
2. MINAT MURID
Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat
‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa
mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan
diantaranya:
- Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah
dan keinginan mereka sendiri untuk belajar;
- Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran;
- Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar
bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan
yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan;
- Meningkatkan motivasi murid untuk belajar.
Beberapa ide yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan
minat diantaranya misalnya:
- Meminta murid untuk memilih apakah mereka ingin mendemonstrasikan
pemahaman dengan menulis lagu, melakukan pertunjukan atau menari.
- Menggunakan teknik Jigsaw dan pembelajaran kooperatif.
- Menggunakan strategi investigasi kelompok berdasarkan minat.
- Membuat kegiatan “sehari di tempat kerja”. Murid diminta mempelajari
bagaimana sebuah keterampilan tertentu diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Mereka boleh memilih profesi yang sesuai minat mereka.
- Membuat model.
3. PROFIL BELAJAR MURID
Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor, seperti: bahasa,
budaya, kesehatan, keadaan keluarga, dan kekhususan lainnya. Selain itu juga
akan berhubungan dengan gaya belajar seseorang. Menurut Tomlinson (dalam
Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid
untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar
belakang, jenis kelamin, dll.
Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural
dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak
sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita
sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar
sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat
memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Penting juga untuk diingat
bahwa kebanyakan orang lebih suka kombinasi profil. Menurut Tomlinson (2001),
ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran seseorang. Berikut ini
adalah beberapa yang harus diperhatikan:
- Lingkungan: suhu, tingkat aktivitas, tingkat kebisingan, jumlah cahaya.
- Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal -
impersonal.
- Visual: belajar dengan melihat (diagram, power point, catatan, peta,
grafik organisator).
- Auditori: belajar dengan mendengar (kuliah, membaca dengan keras,
mendengarkan musik).
- Kinestetik: belajar sambil melakukan (bergerak dan meregangkan tubuh,
kegiatan hands on, dsb).
Berdasarkan pemaparan mengenai ketiga aspek dalam mengkategorikan
kebutuhan belajar murid, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk
mengoptimalkan pembelajaran dan tentunya hasil dari pembelajaran murid
diperlukan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid.
Sumber: Modul 2.1 Pendidikan Guru Penggerak
(Koneksi antar Materi Modul 2.1 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 1
Kab. Parigi Moutong).