Showing posts with label SEKOLAH DASAR. Show all posts
Showing posts with label SEKOLAH DASAR. Show all posts

Monday, September 21, 2026

Guru Bukan Tameng Beracun Program Makan Gratis

Guru Bukan Tameng Beracun

Wacana penugasan guru sebagai food tester atau pencicip makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengejutkan publik. Di tengah rentetan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan massal yang menimpa ratusan siswa di berbagai daerah, muncul ide instan yang menempatkan tenaga pendidik di barisan terdepan pengujian keamanan pangan. Kebijakan ini tidak hanya keliru secara prosedural, tetapi juga menunjukkan pergeseran beban risiko yang tidak proporsional dari pengelola dapur ke meja kelas.

Fenomena ini mencerminkan bentuk risk-shifting atau pergeseran tanggung jawab yang mengkhawatirkan. Dalam rantai tata kelola keamanan pangan, jaminan mutu mutlak berada di tingkat hulu, yaitu pengelola dapur dan produsen makanan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tugas pokok dan fungsi seorang pendidik adalah mendidik, mengajar, membimbing, dan mengevaluasi peserta didik. Mengubah peran guru menjadi "penguji laboratorium hidup" atau tameng penapis makanan beracun tidak hanya menyalahi mandat regulasi, tetapi juga merendahkan martabat profesi guru.

Secara medis dan kesehatan masyarakat, meminta guru mencicipi makanan sebelum dibagikan ke siswa merupakan langkah penanganan yang berisiko tinggi namun tidak efektif. Uji organoleptik yang mengandalkan indra panca indra manusia—seperti mencium bau, melihat warna, atau meraba tekstur—memiliki keterbatasan mendasar. Patogen berbahaya penyebab keracunan pangan seperti Escherichia coli, Salmonella spp., maupun toksin dari Staphylococcus aureus sering kali tidak mengubah rasa, aroma, maupun bentuk makanan secara visual. Kasus keracunan yang menimpa tenaga pendidik di Sleman menjadi bukti nyata bahwa metode pencicipan manual tidak dapat menjamin keselamatan, melainkan justru mengorbankan kesehatan guru itu sendiri.

Jaminan keamanan pangan 100 persen harus diselesaikan secara tuntas sebelum makanan keluar dari pintu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penerapan sistem analisis bahaya dan pengendalian titik kritis (Hazard Analysis and Critical Control Points atau HACCP) serta kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi seluruh mitra penyedia makanan hukumnya wajib dan tidak bisa ditawar. Pengawasan ketat terhadap kebersihan air, sanitasi tempat pengolahan, suhu penyimpanan, hingga higienitas penjamah makanan adalah kunci utama untuk mencegah bahaya mikrobiologi dan kimiawi.

Indonesia sebenarnya dapat mengambil pelajaran penting dari penerapan sistem makan siang sekolah (Kyushoku) di Jepang. Dalam tradisi Kyushoku, guru memang menyantap makanan yang sama bersama para siswa di dalam kelas. Namun, tujuan utama dari aktivitas tersebut murni untuk pendidikan karakter dan edukasi gizi (Shokuiku), seperti mengajarkan adab makan, kebersamaan, dan rasa syukur. Guru di Jepang tidak pernah dibebani kewajiban mencicipi makanan untuk memastikan ada atau tidaknya racun, karena jaminan keamanan pangan telah diverifikasi secara ketat dan tuntas oleh tenaga ahli di pusat katering berstandar tinggi sebelum makanan didistribusikan.

Program Makan Bergizi Gratis adalah niat mulia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia masa depan Indonesia. Namun, keberhasilannya sangat ditentukan oleh ketepatan manajemen risiko dan profesionalisme eksekusi di lapangan. Pemerintah dan pengelola program harus berani menerapkan kebijakan zero-tolerance terhadap penyedia jasa makanan yang lalai memenuhi standar kesehatan.

Sudah saatnya kita mengembalikan fungsi guru ke marwah aslinya sebagai pendidik. Jangan biarkan tenaga pendidik kita dijadikan benteng pertahanan terakhir dari krisis keamanan pangan yang seharusnya diselesaikan di dapur pengolahan. Menjaga keselamatan anak-anak dan menghormati martabat guru adalah tolok ukur utama keberadaban suatu bangsa dalam mengelola program publik.

Wednesday, June 3, 2026

Membanggakan! Tiga Sekolah dari Parigi Moutong Terpilih Mengikuti Pendampingan Praktik Baik G7KAIH Tingkat Provinsi

Pendampingan Praktik Baik G7KAIH (Sumber Foto: Firman, S.Pd)

berandaguru.com – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sulawesi Tengah menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Penyusunan Praktik Baik Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) pada tanggal 2–4 Juni 2026 di Kantor BPMP Provinsi Sulawesi Tengah, Kota Palu.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya reflektif dan inovatif di lingkungan sekolah melalui penguatan karakter peserta didik. Melalui pendampingan tersebut, para kepala sekolah dan guru pendamping diharapkan mampu mendokumentasikan serta menyusun praktik-praktik baik yang telah diterapkan di sekolah masing-masing dalam mendukung implementasi G7KAIH.

Sebanyak 45 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah mengikuti kegiatan ini. Para peserta berasal dari sekolah-sekolah yang dinilai telah menunjukkan komitmen dalam pelaksanaan program penguatan karakter di satuan pendidikan.

Khusus dari Kabupaten Parigi Moutong, terdapat tiga sekolah yang mendapat kesempatan mengikuti kegiatan tersebut, yaitu SD Inpres 1 Inti Bantaya, SD Inpres Raja Basar, dan SDN 3 Parigi. Kehadiran perwakilan sekolah dari berbagai daerah diharapkan dapat memperkaya pertukaran pengalaman dan praktik baik yang telah berhasil diterapkan.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari kebijakan penguatan karakter, program Sahabat Sekolah Dasar (SSD), orientasi konsep praktik baik, identifikasi potensi sekolah, penyusunan storyboard, hingga teknik presentasi dan wawancara lomba. Peserta juga memperoleh penguatan mengenai media pendukung yang dapat digunakan untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan praktik baik di sekolah.

Selain mengikuti sesi pendampingan, peserta diwajibkan menyiapkan video terkait implementasi G7KAIH di sekolah masing-masing. Video tersebut nantinya akan diikutsertakan dalam program Sahabat Sekolah Dasar (SSD) sebagai sarana berbagi inspirasi dan inovasi antar satuan pendidikan.

Melalui kegiatan ini, BPMP Provinsi Sulawesi Tengah berharap semakin banyak sekolah yang mampu mengembangkan budaya positif dan memperkuat karakter peserta didik secara berkelanjutan. Dokumentasi praktik baik yang dihasilkan juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dalam mengimplementasikan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat secara efektif dan inovatif.

Kegiatan pendampingan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung transformasi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi Indonesia yang berintegritas, mandiri, disiplin, dan berdaya saing.

Sumber: Surat Undangan BPMP Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 0620/B/C6.28/DM.00.02/2026 tanggal 19 Mei 2026. 

Tuesday, June 2, 2026

Penetapan Kelulusan SD Inpres Raja Basar Berlangsung Haru, Sempat Diwarnai Tangis dan Kepanikan, Seluruh Siswa Akhirnya Lulus 100 Persen

Penetapan Kelulusan Kelas 6

Raja Basar, 2 Juni 2026 – Penetapan kelulusan peserta didik kelas VI tahun ajaran 2025/2026 yang dilaksanakan secara serentak pada Selasa (2/6/2026) menghadirkan suasana berbeda di SD Inpres Raja Basar. Jika pada tahun-tahun sebelumnya hasil kelulusan diumumkan melalui papan pengumuman sekolah atau dibagikan dalam amplop tertutup, tahun ini sekolah menerapkan sistem pengecekan kelulusan secara daring (online).

Para siswa dan orang tua dapat mengakses hasil kelulusan melalui laman khusus yang disematkan pada website Beranda Guru. Inovasi ini menjadi pengalaman baru bagi seluruh peserta didik yang menanti hasil perjuangan mereka selama enam tahun menempuh pendidikan di sekolah dasar.

Sejak pagi hari, suasana di lingkungan sekolah dipenuhi rasa penasaran dan harap-harap cemas. Satu per satu siswa membuka laman pengecekan kelulusan menggunakan telepon genggam masing-masing. Berbagai ekspresi pun terlihat. Ada siswa yang tersenyum bahagia setelah melihat hasil yang ditampilkan, namun tidak sedikit pula yang tampak menangis histeris karena mengira dirinya tidak lulus.

Kondisi semakin menegangkan ketika beberapa siswa yang selama ini dikenal berprestasi di kelas justru mendapati hasil yang menunjukkan tidak lulus. Hal tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan siswa maupun orang tua. Di sisi lain, beberapa siswa lain yang melihat hasil berbeda tampak lega dan bersyukur.

Situasi sempat menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah. Banyak pihak merasa heran karena hasil yang muncul tidak sesuai dengan rekam jejak akademik sejumlah siswa yang selama ini menunjukkan prestasi baik di kelas.

Setelah dilakukan pengecekan ulang oleh pihak sekolah, diketahui bahwa terjadi kendala teknis pada proses penampilan data hasil kelulusan. Tim sekolah kemudian segera melakukan verifikasi dan pembaruan data sehingga hasil yang ditampilkan sesuai dengan keputusan resmi satuan pendidikan.

Kabar baik pun akhirnya datang. Setelah seluruh data diverifikasi kembali, seluruh peserta didik kelas VI SD Inpres Raja Basar dinyatakan lulus 100 persen.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kecemasan berubah menjadi kegembiraan. Tangis haru berganti senyum bahagia. Para siswa saling mengucapkan selamat kepada teman-temannya, sementara para orang tua mengungkapkan rasa syukur atas hasil yang telah diperoleh anak-anak mereka.

Kepala SD Inpres Raja Basar, Suhurin, S.Pd, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta didik atas kerja keras dan perjuangan mereka selama menempuh pendidikan di sekolah dasar.

Sementara itu, wali kelas VI, Mista, S.Pd, mengaku bangga atas capaian seluruh peserta didiknya. Ia berharap para siswa tetap semangat belajar dan menjaga karakter positif yang telah dibangun selama berada di SD Inpres Raja Basar.

Pada tahun ajaran 2025/2026, jumlah peserta didik kelas VI SD Inpres Raja Basar yang mengikuti penetapan kelulusan sebanyak 50 siswa. Dengan hasil kelulusan mencapai 100 persen, sekolah mencatatkan prestasi yang membanggakan sekaligus menandai suksesnya pelaksanaan pengumuman kelulusan berbasis digital untuk pertama kalinya.

Penerapan sistem pengecekan hasil kelulusan secara online ini juga menjadi langkah sekolah dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan layanan pendidikan yang lebih efektif, cepat, dan mudah diakses oleh peserta didik maupun orang tua.

Friday, May 22, 2026

Semangat Sportivitas Warnai Keikutsertaan Kecamatan Moutong di O2SN SD Kabupaten Parigi Moutong 2026

Kontingen O2SN Kecamatan Moutong

Ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS2N) tingkat SD Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2026 resmi digelar pada tanggal 22 hingga 24 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menggali potensi, bakat, dan prestasi peserta didik di bidang olahraga maupun seni.

Pada pelaksanaan tahun ini, Kecamatan Moutong berpartisipasi dengan mengirimkan delegasi khusus untuk cabang O2SN tingkat sekolah dasar. Sebanyak 6 atlet terbaik diterjunkan untuk mewakili kecamatan dalam berbagai cabang olahraga yang diperlombakan.

Kontingen Kecamatan Moutong terdiri atas:

  • 2 atlet renang

  • 2 atlet lari/atletik

  • 2 atlet bulutangkis

Selain para atlet, keikutsertaan Kecamatan Moutong juga didampingi oleh 9 guru PJOK, 8 kepala sekolah, 1 Pengawas SD Wilayah 1, 1 Pengawas SD Wilayah 2 yang juga menjabat sebagai Korwil Satuan Pendidikan.

Kehadiran para pendidik dan pengawas tersebut menjadi bentuk dukungan penuh terhadap pengembangan bakat dan karakter peserta didik melalui ajang kompetisi olahraga.

Dalam O2SN tahun ini, terdapat enam cabang olahraga yang diperlombakan, yaitu:

  • Kids’ Athletics

  • Renang

  • Bulutangkis

  • Pencak Silat

  • Senam

  • Atletik

Namun, Kecamatan Moutong hanya mengikuti beberapa cabang lomba tertentu sesuai kesiapan atlet yang dimiliki. Cabang yang diikuti meliputi:

  • Kids’ Athletics kategori Kanga Escape Putra dan Putri

  • Bulutangkis kategori tunggal putra dan tunggal putri

  • Renang kategori 50 meter gaya bebas, gaya dada, gaya punggung, dan gaya kupu-kupu putra maupun putri

Partisipasi ini menjadi bukti komitmen sekolah-sekolah di Kecamatan Moutong dalam mendukung pembinaan olahraga sejak usia dini. Selain mengejar prestasi, kegiatan O2SN juga menjadi sarana membangun sportivitas, disiplin, kerja keras, serta rasa percaya diri siswa.

Semangat para atlet muda Kecamatan Moutong diharapkan mampu memberikan hasil terbaik sekaligus menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk terus mengembangkan potensi di bidang olahraga. Dukungan dari para guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan juga menjadi energi positif dalam menciptakan generasi yang sehat, aktif, dan berprestasi.

Wednesday, May 24, 2017

Semangatku tak serapuh batas dinding yang kau lihat

Berdiri sejak tahun 2009 SD Kecil Bomban tetap eksis dalam dunia pendidikan demi mencerdaskan anak bangsa. Sekolah yang berada di dusun terpencil desa lembah bomban ini selalu menampakkan dirinya dari salah satu  puncak ketinggian di kecamatan bolano.

"SD Kecil Bomban", merupakan sekolah dasar negeri, tidak menggunakan kata "negeri" sebagaimana penamaan sekolah dasar pada umumnya, bukan serta merta orang menganggap ini adalah sekolah swasta ataupun milik lembaga lainnya non pemerintah. Unik, penamaan SD KECIL mungkin hanya ada di Kab. Parigi Moutong (mungkin otonomi daerah).

Sekolah ini berdiri untuk memfasilitasi masyarakat akan akses pendidikan dasar, kondisi medan untuk menuju sekolah dasar yang ada di lembah bomban (sebut saja SD Inpres Bomban) tidak mudah dilalui oleh anak usia sekolah dasar.

Meski bergelimang dengan keterbatasan sarana dan prasarana tidak serta merta membuat sekolah ini berbesar hati untuk putus asa dalam menjalankan fungsinya sebagai salah satu pusat pendidikan di tengah perkebunan warga. Meski sudah memiliki bagunan permamen, bangunan lama hasil swadaya masayarakat yang d bangun sejak 2009 masih tegap berdiri kokoh dan dimanfaatkan untuk ruang pembelajaran.

Tak bisa menyembunyikan kebohongan akan semangat siswa dalam menggapai cita-cita mereka, hal ini tergambar jelas dalam aktifitas pembelajaran yang telah terjadwal, meski beralaskan tanah dan dinding yang mulai rapuh di makan mahluk hidup lainnya merupakan saksi akan semangat mereka dalam mendapatkan hak mereka sebagai warga negara akan pendidkan yang layak.

Dengan memaksimalkan sumber daya yang ada pembelajaran pun berjalan sebagaimana yang dilakukan oleh sekolah dasar pada umumnya. Meskipun naik turun bukit menggunakan sepeda motor yang spesifikasinya bukan untuk medan tersebut, bukan pembatas untuk memberikan ilmu yang tidak terbatas pada siswa yang jumlahnya sangat terbatas (meski dalam perhitungan dana bos digenapkan 60 siswa).

Sehingga bisa disimpulkan bahwa "Semangatku tak serapuh batas dinding yang kau lihat".
Pb @harismtg2017