Showing posts with label Berbagi. Show all posts
Showing posts with label Berbagi. Show all posts

Tuesday, July 28, 2026

Guru dan Kepala Sekolah Wajib Tahu! Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 Resmi Terbit

 

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

BerandaGuru.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi terbaru ini menjadi landasan baru dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya bebas dari kekerasan, tetapi juga mampu mendukung perkembangan karakter, kesehatan mental, keamanan digital, dan kesejahteraan seluruh warga sekolah.

Peraturan ini sekaligus mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, sehingga pendekatan yang digunakan kini lebih komprehensif dengan menitikberatkan pada pembentukan budaya sekolah yang positif dan berkelanjutan.

Jika sebelumnya perhatian utama hanya terfokus pada pencegahan dan penanganan kekerasan, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menghadirkan paradigma baru. Sekolah tidak lagi hanya bertugas menyelesaikan kasus ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga harus membangun sistem yang mampu mencegah berbagai risiko sejak dini melalui pembiasaan budaya positif.

Budaya Sekolah Aman dan Nyaman didefinisikan sebagai keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang menjamin terpenuhinya kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta keamanan digital bagi seluruh warga sekolah.

Permendikdasmen ini menetapkan empat aspek utama yang wajib diwujudkan oleh setiap satuan pendidikan, yaitu:

1. Pemenuhan Kebutuhan Spiritual

Sekolah harus memberikan ruang bagi seluruh warga sekolah untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya, memperkuat toleransi antarumat beragama, serta menyediakan fasilitas ibadah yang layak dan mudah diakses.

2. Perlindungan Fisik

Lingkungan sekolah wajib memenuhi standar keamanan, kebersihan, kesehatan, ramah disabilitas, serta memiliki sistem keamanan yang mampu mencegah berbagai potensi gangguan dari dalam maupun luar sekolah.

3. Kesejahteraan Psikologis dan Keamanan Sosiokultural

Sekolah didorong membangun lingkungan yang menghargai keberagaman, memberikan kesempatan yang setara kepada seluruh peserta didik, memperkuat dukungan psikologis, serta menciptakan hubungan yang saling menghormati antarwarga sekolah.

4. Keadaban dan Keamanan Digital

Di era digital, sekolah juga memiliki tanggung jawab membangun etika bermedia digital, meningkatkan literasi digital, melindungi data pribadi warga sekolah, sekaligus mencegah penyebaran hoaks, perundungan siber, maupun kejahatan digital lainnya.

Permendikdasmen ini memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan budaya di lingkungan satuan pendidikan.

Kepala sekolah bertugas menyusun tata tertib, kode etik, serta prosedur operasional standar (SOP), melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan keamanan dan kenyamanan, menyusun program beserta anggaran, melakukan supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan, serta membangun kemitraan dengan orang tua dan masyarakat.

Selain itu, kepala sekolah juga bertanggung jawab memastikan tersedianya kanal pengaduan yang mudah diakses, menjamin kerahasiaan pelapor, serta menindaklanjuti setiap laporan secara profesional. Regulasi ini juga mempertegas peran guru dalam membangun lingkungan belajar yang sehat.

Pada jenjang sekolah dasar, guru kelas menjadi penanggung jawab utama kondisi kelas, mulai dari menyambut peserta didik setiap hari, memantau kondisi fisik dan emosional, melakukan deteksi dini terhadap berbagai permasalahan, hingga menangani konflik antarpeserta didik secara edukatif.

Guru Pendidikan Agama berperan memperkuat nilai spiritual dan moral, sedangkan guru PJOK bertanggung jawab menjaga keamanan selama aktivitas fisik sekaligus menanamkan sportivitas dan kerja sama. Setiap guru juga diwajibkan menyusun kesepakatan kelas bersama peserta didik, sehingga aturan kelas lahir dari kesepahaman bersama, bukan sekadar instruksi sepihak.

Salah satu perubahan penting dalam regulasi ini adalah penggunaan pendekatan Penanganan Pelanggaran Kolaboratif. Melalui pendekatan ini, sekolah diharapkan tidak hanya berorientasi pada pemberian sanksi, tetapi lebih mengutamakan perlindungan korban, edukasi kepada pelaku, penyelesaian masalah secara adil, serta pemulihan kondisi psikologis seluruh pihak yang terlibat.

Apabila pelanggaran berkaitan dengan tindak pidana atau pelanggaran hukum lainnya, sekolah wajib melakukan rujukan kepada Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman sesuai kewenangan.

Sebagai bentuk penguatan koordinasi, pemerintah daerah diwajibkan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Budaya Sekolah Aman dan Nyaman paling lambat enam bulan setelah peraturan ini berlaku.  Pokja memiliki tugas melakukan sosialisasi, menerima laporan dugaan pelanggaran, melakukan verifikasi, memfasilitasi pendampingan psikologis maupun hukum, serta memantau pelaksanaan budaya sekolah di seluruh satuan pendidikan.

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menegaskan bahwa keberhasilan menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya menjadi tanggung jawab guru dan kepala sekolah. Orang tua diharapkan menyelaraskan pola pengasuhan dengan pendidikan karakter di sekolah, aktif berkomunikasi mengenai perkembangan anak, serta mendampingi aktivitas anak, termasuk di ruang digital.

Komite sekolah, masyarakat, hingga media massa juga didorong untuk berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan ramah anak.

Bagi satuan pendidikan, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menjadi momentum untuk melakukan berbagai penyesuaian, di antaranya:

  • menyusun atau memperbarui tata tertib sekolah;

  • menyusun SOP Budaya Sekolah Aman dan Nyaman;

  • membentuk sistem deteksi dini dan kanal pengaduan;

  • memperkuat budaya positif melalui pembiasaan karakter;

  • meningkatkan kompetensi guru dalam kesehatan mental, literasi digital, dan penanganan pelanggaran;

  • memperkuat kolaborasi dengan orang tua, komite sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang yang benar-benar aman, inklusif, menghargai keberagaman, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara utuh.

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat transformasi pendidikan Indonesia. Regulasi ini menempatkan budaya sekolah sebagai fondasi utama untuk mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan karakter peserta didik.

Bagi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, hingga masyarakat, implementasi regulasi ini menjadi tanggung jawab bersama agar setiap anak Indonesia dapat belajar dalam lingkungan yang menghormati martabat manusia, melindungi hak-haknya, serta mendukung tumbuh kembang secara optimal.

Saturday, May 16, 2026

Mengenal SEAMEO dan SEAMOLEC


Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan dunia pendidikan, kehadiran organisasi yang mampu menjembatani kolaborasi antarnegara menjadi sangat penting. Salah satu organisasi pendidikan terbesar di kawasan Asia Tenggara adalah SEAMEO.

SEAMEO merupakan organisasi kerja sama antarmenteri pendidikan di Asia Tenggara yang berdiri sejak tahun 1965. Organisasi ini memiliki tujuan utama meningkatkan kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di negara-negara Asia Tenggara melalui berbagai program kolaboratif.

Dari organisasi inilah lahir berbagai pusat regional yang memiliki fokus masing-masing. Salah satunya adalah SEAMOLEC atau Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre, yang berfokus pada pengembangan pendidikan terbuka dan pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi.

SEAMOLEC dan Transformasi Pendidikan Digital

Di era digital seperti sekarang, pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas. Guru dan siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja melalui teknologi. Di sinilah peran SEAMOLEC menjadi sangat penting.

SEAMOLEC hadir sebagai pusat inovasi pendidikan digital yang membantu negara-negara Asia Tenggara mengembangkan:

  • Pembelajaran daring (online learning)
  • Pendidikan jarak jauh
  • Literasi digital
  • Pelatihan guru berbasis teknologi
  • Media pembelajaran interaktif
  • Pengembangan keterampilan abad 21

Melalui berbagai pelatihan, webinar, kursus online, dan kerja sama pendidikan, SEAMOLEC mendorong guru untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi pembelajaran.

Membantu Guru Beradaptasi dengan Era Modern

Banyak guru yang awalnya belum terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Namun melalui berbagai program SEAMOLEC, para pendidik didorong untuk lebih percaya diri memanfaatkan platform digital, membuat media pembelajaran kreatif, hingga mengembangkan kelas virtual yang interaktif.

Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, terutama dalam implementasi pembelajaran berbasis teknologi dan penguatan literasi digital di sekolah.

SEAMOLEC juga menjadi ruang kolaborasi antarpendidik dari berbagai negara Asia Tenggara. Guru dapat saling berbagi pengalaman, strategi pembelajaran, hingga inovasi pendidikan yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Mendorong Pendidikan yang Lebih Inklusif

Salah satu nilai penting yang dibawa SEAMOLEC adalah pemerataan akses pendidikan. Dengan memanfaatkan teknologi, pendidikan dapat menjangkau lebih banyak peserta didik, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.

Pembelajaran digital membuka peluang besar bagi siswa untuk memperoleh materi belajar berkualitas tanpa harus terbatas oleh jarak dan waktu. Inilah salah satu langkah nyata menuju pendidikan yang lebih inklusif dan merata.

Inspirasi bagi Dunia Pendidikan Indonesia

Bagi Indonesia, keberadaan SEAMEO dan SEAMOLEC menjadi peluang besar untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Guru, sekolah, dan tenaga kependidikan dapat memanfaatkan berbagai program pelatihan dan sumber belajar yang tersedia untuk meningkatkan kompetensi di era digital.

Transformasi pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dan melalui peran SEAMEO serta SEAMOLEC, pendidikan di Asia Tenggara perlahan bergerak menuju sistem pembelajaran yang lebih modern, kolaboratif, dan berorientasi masa depan.

Sunday, December 28, 2025

Target Performa atau Target Pembelajaran? Arah Kelas Menentukan Cara Murid Bertumbuh

Arah Kelas Menentukan Cara Murid Bertumbuh (Sumber Gambar : Whisk)

Di ruang kelas, sering kali kita sibuk mengejar hasil. Nilai, peringkat, dan kecepatan menyelesaikan tugas menjadi tolok ukur utama. Namun, tanpa disadari, cara kita menetapkan “target” justru menentukan apakah murid hanya berusaha tampil pintar, atau benar-benar belajar dan bertumbuh.

Dalam dunia psikologi pendidikan, Prof. Carol Ames dari Michigan State University memperkenalkan kerangka TARGET untuk membedakan dua orientasi kelas: Target Performa dan Target Pembelajaran. Kerangka ini membantu guru melihat bagaimana struktur kelas memengaruhi motivasi dan pola pikir murid.

TARGET terdiri dari enam dimensi utama: Task, Authority, Recognition, Grouping, Evaluation, dan Time.
 
1. Task (Tugas) 

Pada kelas berorientasi Target Performa, tugas cenderung mudah dan berfokus pada hafalan. Tujuannya jelas: murid cepat selesai dan terlihat “bisa”.

Sebaliknya, dalam Target Pembelajaran, tugas dirancang bervariasi—dari yang sederhana hingga menantang—sehingga murid belajar menghadapi kesulitan dan mengembangkan strategi.

2. Authority (Otoritas)

Dalam Target Performa, guru memberi instruksi rinci. Murid tinggal mengikuti. Pada Target Pembelajaran, guru hanya memberi petunjuk awal. Murid diberi ruang untuk menentukan cara, mencoba, salah, lalu memperbaiki.
 
3. Recognition (Pengakuan)

Di kelas Target Performa, apresiasi diberikan karena tugas dikumpulkan atau hasilnya bagus. Di kelas Target Pembelajaran, pengakuan diberikan pada usaha, proses, dan strategi yang digunakan murid, bukan semata hasil akhir.
 
4. Grouping (Pengelompokan)

Target Performa sering mengelompokkan murid berdasarkan kemampuan, yang tanpa sadar memicu kompetisi keras. Target Pembelajaran mengelompokkan murid berdasarkan cara belajar, sehingga kolaborasi tumbuh dan setiap murid merasa memiliki peran.

5. Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi pada Target Performa bersifat umum dan menekankan hasil akhir. Sementara itu, Target Pembelajaran menilai kemajuan individu, proses belajar, dan perkembangan murid dari waktu ke waktu.

6. Time (Waktu)

Target Performa menetapkan batas waktu kaku. Target Pembelajaran lebih fleksibel: penguasaan materi lebih penting daripada kecepatan. Ketika Target Menentukan Pola Pikir Murid

Dalam penelitiannya yang dipaparkan dalam buku The Self-Theories (2000), Prof. Carol Dweck mengamati murid SMP yang mempelajari materi sains baru. Di kelas Target Performa, murid diurutkan berdasarkan nilai dan kecerdasan. Terbentuklah kelompok “murid pintar” yang sering mendapat perhatian. Kesetaraan dipahami sebagai semua murid mendapat tugas, waktu, dan penilaian yang sama.

Namun, di kelas Target Pembelajaran, guru menerapkan prinsip equity (kesetaraan yang adil). Tugas dipersonalisasi, waktu fleksibel, dan perbedaan cara belajar dihargai.

Hasilnya jelas, target Performa cenderung melahirkan Pola Pikir Tetap (PPT) karena murid takut salah dan merasa label “kurang pintar” sulit diubah. Target Pembelajaran justru menjadi ruang tumbuhnya Pola Pikir Berkembang (PPB) karena setiap murid diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Refleksi Akhir

Sebagai guru, pertanyaan reflektifnya sederhana namun mendalam: Apakah kelas kita memberi ruang bagi murid untuk belajar, atau hanya untuk terlihat berhasil? Target bukan sekadar angka di rapor. Target adalah pesan diam-diam yang kita sampaikan setiap hari: apakah kesalahan adalah akhir, atau bagian dari proses belajar.

Saturday, December 27, 2025

The Power of YET: Satu Kata Kecil yang Menjaga Harapan Murid Tetap Menyala

The Power of YET

Saya masih ingat betul satu momen di kelas. Seorang murid menutup bukunya pelan, lalu berkata lirih, “Pak, saya tidak bisa.” Kalimatnya sederhana, tapi dampaknya besar. Saat itulah saya sadar, yang sedang kita hadapi bukan sekadar soal pelajaran, melainkan soal keyakinan diri.

Dalam upaya menumbuhkan PPB (Pola Pikir Bertumbuh), saya mulai belajar tentang satu prinsip sederhana namun kuat: The Power of YET. Prinsip ini mengajarkan kita untuk mengubah kata “tidak” menjadi “belum”. Bukan sekadar permainan kata, tetapi perubahan cara memandang proses belajar.

Tidak bisa menjadi belum bisa.
Tidak paham menjadi belum paham.
Tidak lulus menjadi belum lulus.


Dengan menambahkan kata YET, kesalahan dan kegagalan tidak lagi menjadi vonis akhir. Ia berubah menjadi tanda bahwa proses masih berjalan.

Prinsip ini sejalan dengan gagasan growth mindset yang diperkenalkan oleh Carol Dweck, bahwa kemampuan bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui usaha dan waktu.

Sebaliknya, ketika kelas dikuasai oleh The Tyranny of NOW, segala sesuatu dinilai saat ini juga. Salah hari ini berarti gagal. Tidak ada ruang untuk mencoba ulang. Murid pun perlahan membangun PPT (Pola Pikir Tetap) dan berhenti berharap.
 
Contoh Dialog Guru–Murid: The Power of YET di Kelas SD

Berikut contoh dialog sederhana yang sering terjadi di kelas, namun maknanya sangat menentukan.

Murid:
“Bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.”

Guru (versi lama):
“Coba perhatikan lagi, ini mudah.”

Sering kali, kalimat ini justru membuat murid semakin ragu.

Guru (dengan The Power of YET):
“Kamu belum bisa, ya. Bagian mana yang menurutmu paling sulit?”

Murid:
“Saya salah terus, Pak.”

Guru:
“Tidak apa-apa. Itu tandanya kamu sedang belajar. Kamu belum menemukan caranya, tapi sebentar lagi pasti bisa.”

Murid:
“Nilai saya jelek, berarti saya tidak pintar.”

Guru:
“Nilaimu hari ini belum sesuai harapan. Tapi ini bukan tentang pintar atau tidak, ini tentang proses. Kita cari cara supaya besok lebih baik.”

Dalam dialog-dialog sederhana ini, guru tidak menutup kesalahan, tetapi memberi makna. Murid tidak dibiarkan berhenti di kegagalan, melainkan diajak melangkah satu tahap lebih jauh.

Sebagai guru, mungkin kita tidak selalu sadar bahwa bahasa kita adalah cermin bagi murid. Dari kata-kata kitalah mereka belajar menilai diri sendiri.

The Power of YET mengingatkan saya bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar materi, tetapi menjaga harapan. Satu kata “belum” bisa menjadi ruang bernapas bagi murid yang hampir menyerah.

Karena pada akhirnya, murid tidak butuh guru yang selalu memberi jawaban.
Mereka butuh guru yang percaya bahwa mereka sedang bertumbuh—meski hari ini masih belum.

Friday, December 26, 2025

Belajar dari Kesalahan: Ketika Gagal Justru Membuka Jalan Pemahaman

Belajar dari Kesalahan (Sumber Gambar: Whisk)

Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar sering kita lakukan di kelas: berusaha melindungi murid dari kesalahan. Soal dijelaskan seterang mungkin, contoh diberikan sedetail mungkin, agar murid tidak salah langkah. Niatnya baik. Namun, benarkah belajar selalu harus dimulai dari jawaban yang benar?

Dalam perjalanan mengajar, saya mulai menyadari bahwa pemahaman murid tidak selalu tumbuh dari penjelasan yang rapi. Ada kalanya, pemahaman justru muncul setelah mereka kebingungan, berdiskusi, mencoba, lalu menyadari sendiri di mana letak kesalahannya.

Pemahaman ini sejalan dengan konsep Productive Failure—kesalahan yang produktif—yang dikembangkan oleh Manu Kapur, seorang profesor psikologi pendidikan. Melalui berbagai penelitiannya, ia menunjukkan bahwa murid yang diberi kesempatan untuk berjuang terlebih dahulu dalam memecahkan masalah akan memiliki pemahaman yang lebih dalam dibanding murid yang sejak awal diberi rumus dan langkah baku.

Dalam proyek Singapore Learning to Fail, murid dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama langsung diberi instruksi jelas. Kelompok kedua dibiarkan berdiskusi tanpa petunjuk pasti. Hasil awalnya timpang: kelompok pertama cepat benar, kelompok kedua banyak salah. Namun ketika konsep dijelaskan di akhir, justru kelompok kedua mampu menerapkan pemahaman tersebut dengan lebih fleksibel pada soal baru. 

Yang mereka dapatkan bukan sekadar jawaban, tetapi cara berpikir.

Contoh Praktik Productive Failure di Kelas SD

Pendekatan ini sangat mungkin diterapkan di sekolah dasar, tentu dengan penyesuaian.

Matematika: Soal Cerita Tanpa Rumus di Awal
Alih-alih langsung menuliskan rumus, guru dapat memberikan soal cerita sederhana:

“Ani punya 12 permen, dibagikan sama rata kepada 4 teman. Bagaimana caramu mengetahui jumlah permen tiap anak?”

Biarkan murid:
  • Menggambar,
  • Menggunakan benda konkret,
  • Berdiskusi dengan teman sebangku.
Walau jawabannya belum tentu tepat, proses berpikir itulah yang menjadi modal utama sebelum guru masuk memberi penguatan konsep pembagian.

IPA: Mengapa Es Bisa Mencair?
Sebelum menjelaskan tentang perubahan wujud benda, guru bisa bertanya:

“Menurut kalian, kenapa es yang diletakkan di meja lama-lama hilang?”

Murid akan menjawab beragam—ada yang bilang karena panas, ada yang menyebut “habis”, bahkan ada yang menjawab karena “diminum udara”. Dari jawaban-jawaban itulah guru kemudian mengarahkan, meluruskan, dan memperkuat konsep secara ilmiah.


Bahasa Indonesia: Menyusun Kalimat
Saat belajar menyusun kalimat efektif, guru tidak langsung memberi contoh sempurna. Murid diminta menulis kalimat sendiri, lalu bersama-sama membahas mana yang mudah dipahami dan mana yang masih membingungkan.

Kesalahan kalimat bukan untuk ditertawakan, melainkan dijadikan bahan belajar bersama.

Sebagai guru SD, kita bukan hanya mengajar agar murid bisa menjawab soal hari ini. Kita sedang menyiapkan cara berpikir mereka untuk menghadapi masalah di masa depan.

Memberi ruang pada kesalahan bukan berarti membiarkan murid tersesat. Justru di sanalah peran guru menjadi lebih bermakna: menemani, mengarahkan, dan memberi makna pada proses belajar.

Mungkin, kelas yang baik bukanlah kelas yang selalu sunyi dan penuh jawaban benar.
Tetapi kelas yang hidup, penuh diskusi, penuh salah—dan akhirnya penuh pemahaman.