Friday, December 26, 2025

Belajar dari Kesalahan: Ketika Gagal Justru Membuka Jalan Pemahaman

Belajar dari Kesalahan (Sumber Gambar: Whisk)

Ada satu kebiasaan yang tanpa sadar sering kita lakukan di kelas: berusaha melindungi murid dari kesalahan. Soal dijelaskan seterang mungkin, contoh diberikan sedetail mungkin, agar murid tidak salah langkah. Niatnya baik. Namun, benarkah belajar selalu harus dimulai dari jawaban yang benar?

Dalam perjalanan mengajar, saya mulai menyadari bahwa pemahaman murid tidak selalu tumbuh dari penjelasan yang rapi. Ada kalanya, pemahaman justru muncul setelah mereka kebingungan, berdiskusi, mencoba, lalu menyadari sendiri di mana letak kesalahannya.

Pemahaman ini sejalan dengan konsep Productive Failure—kesalahan yang produktif—yang dikembangkan oleh Manu Kapur, seorang profesor psikologi pendidikan. Melalui berbagai penelitiannya, ia menunjukkan bahwa murid yang diberi kesempatan untuk berjuang terlebih dahulu dalam memecahkan masalah akan memiliki pemahaman yang lebih dalam dibanding murid yang sejak awal diberi rumus dan langkah baku.

Dalam proyek Singapore Learning to Fail, murid dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama langsung diberi instruksi jelas. Kelompok kedua dibiarkan berdiskusi tanpa petunjuk pasti. Hasil awalnya timpang: kelompok pertama cepat benar, kelompok kedua banyak salah. Namun ketika konsep dijelaskan di akhir, justru kelompok kedua mampu menerapkan pemahaman tersebut dengan lebih fleksibel pada soal baru. 

Yang mereka dapatkan bukan sekadar jawaban, tetapi cara berpikir.

Contoh Praktik Productive Failure di Kelas SD

Pendekatan ini sangat mungkin diterapkan di sekolah dasar, tentu dengan penyesuaian.

Matematika: Soal Cerita Tanpa Rumus di Awal
Alih-alih langsung menuliskan rumus, guru dapat memberikan soal cerita sederhana:

“Ani punya 12 permen, dibagikan sama rata kepada 4 teman. Bagaimana caramu mengetahui jumlah permen tiap anak?”

Biarkan murid:
  • Menggambar,
  • Menggunakan benda konkret,
  • Berdiskusi dengan teman sebangku.
Walau jawabannya belum tentu tepat, proses berpikir itulah yang menjadi modal utama sebelum guru masuk memberi penguatan konsep pembagian.

IPA: Mengapa Es Bisa Mencair?
Sebelum menjelaskan tentang perubahan wujud benda, guru bisa bertanya:

“Menurut kalian, kenapa es yang diletakkan di meja lama-lama hilang?”

Murid akan menjawab beragam—ada yang bilang karena panas, ada yang menyebut “habis”, bahkan ada yang menjawab karena “diminum udara”. Dari jawaban-jawaban itulah guru kemudian mengarahkan, meluruskan, dan memperkuat konsep secara ilmiah.


Bahasa Indonesia: Menyusun Kalimat
Saat belajar menyusun kalimat efektif, guru tidak langsung memberi contoh sempurna. Murid diminta menulis kalimat sendiri, lalu bersama-sama membahas mana yang mudah dipahami dan mana yang masih membingungkan.

Kesalahan kalimat bukan untuk ditertawakan, melainkan dijadikan bahan belajar bersama.

Sebagai guru SD, kita bukan hanya mengajar agar murid bisa menjawab soal hari ini. Kita sedang menyiapkan cara berpikir mereka untuk menghadapi masalah di masa depan.

Memberi ruang pada kesalahan bukan berarti membiarkan murid tersesat. Justru di sanalah peran guru menjadi lebih bermakna: menemani, mengarahkan, dan memberi makna pada proses belajar.

Mungkin, kelas yang baik bukanlah kelas yang selalu sunyi dan penuh jawaban benar.
Tetapi kelas yang hidup, penuh diskusi, penuh salah—dan akhirnya penuh pemahaman.

0 komentar: