Saturday, December 27, 2025

The Power of YET: Satu Kata Kecil yang Menjaga Harapan Murid Tetap Menyala

The Power of YET

Saya masih ingat betul satu momen di kelas. Seorang murid menutup bukunya pelan, lalu berkata lirih, “Pak, saya tidak bisa.” Kalimatnya sederhana, tapi dampaknya besar. Saat itulah saya sadar, yang sedang kita hadapi bukan sekadar soal pelajaran, melainkan soal keyakinan diri.

Dalam upaya menumbuhkan PPB (Pola Pikir Bertumbuh), saya mulai belajar tentang satu prinsip sederhana namun kuat: The Power of YET. Prinsip ini mengajarkan kita untuk mengubah kata “tidak” menjadi “belum”. Bukan sekadar permainan kata, tetapi perubahan cara memandang proses belajar.

Tidak bisa menjadi belum bisa.
Tidak paham menjadi belum paham.
Tidak lulus menjadi belum lulus.


Dengan menambahkan kata YET, kesalahan dan kegagalan tidak lagi menjadi vonis akhir. Ia berubah menjadi tanda bahwa proses masih berjalan.

Prinsip ini sejalan dengan gagasan growth mindset yang diperkenalkan oleh Carol Dweck, bahwa kemampuan bukan sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui usaha dan waktu.

Sebaliknya, ketika kelas dikuasai oleh The Tyranny of NOW, segala sesuatu dinilai saat ini juga. Salah hari ini berarti gagal. Tidak ada ruang untuk mencoba ulang. Murid pun perlahan membangun PPT (Pola Pikir Tetap) dan berhenti berharap.
 
Contoh Dialog Guru–Murid: The Power of YET di Kelas SD

Berikut contoh dialog sederhana yang sering terjadi di kelas, namun maknanya sangat menentukan.

Murid:
“Bu, saya tidak bisa mengerjakan soal ini.”

Guru (versi lama):
“Coba perhatikan lagi, ini mudah.”

Sering kali, kalimat ini justru membuat murid semakin ragu.

Guru (dengan The Power of YET):
“Kamu belum bisa, ya. Bagian mana yang menurutmu paling sulit?”

Murid:
“Saya salah terus, Pak.”

Guru:
“Tidak apa-apa. Itu tandanya kamu sedang belajar. Kamu belum menemukan caranya, tapi sebentar lagi pasti bisa.”

Murid:
“Nilai saya jelek, berarti saya tidak pintar.”

Guru:
“Nilaimu hari ini belum sesuai harapan. Tapi ini bukan tentang pintar atau tidak, ini tentang proses. Kita cari cara supaya besok lebih baik.”

Dalam dialog-dialog sederhana ini, guru tidak menutup kesalahan, tetapi memberi makna. Murid tidak dibiarkan berhenti di kegagalan, melainkan diajak melangkah satu tahap lebih jauh.

Sebagai guru, mungkin kita tidak selalu sadar bahwa bahasa kita adalah cermin bagi murid. Dari kata-kata kitalah mereka belajar menilai diri sendiri.

The Power of YET mengingatkan saya bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar materi, tetapi menjaga harapan. Satu kata “belum” bisa menjadi ruang bernapas bagi murid yang hampir menyerah.

Karena pada akhirnya, murid tidak butuh guru yang selalu memberi jawaban.
Mereka butuh guru yang percaya bahwa mereka sedang bertumbuh—meski hari ini masih belum.

0 komentar: