Sunday, December 28, 2025

Target Performa atau Target Pembelajaran? Arah Kelas Menentukan Cara Murid Bertumbuh

Arah Kelas Menentukan Cara Murid Bertumbuh (Sumber Gambar : Whisk)

Di ruang kelas, sering kali kita sibuk mengejar hasil. Nilai, peringkat, dan kecepatan menyelesaikan tugas menjadi tolok ukur utama. Namun, tanpa disadari, cara kita menetapkan “target” justru menentukan apakah murid hanya berusaha tampil pintar, atau benar-benar belajar dan bertumbuh.

Dalam dunia psikologi pendidikan, Prof. Carol Ames dari Michigan State University memperkenalkan kerangka TARGET untuk membedakan dua orientasi kelas: Target Performa dan Target Pembelajaran. Kerangka ini membantu guru melihat bagaimana struktur kelas memengaruhi motivasi dan pola pikir murid.

TARGET terdiri dari enam dimensi utama: Task, Authority, Recognition, Grouping, Evaluation, dan Time.
 
1. Task (Tugas) 

Pada kelas berorientasi Target Performa, tugas cenderung mudah dan berfokus pada hafalan. Tujuannya jelas: murid cepat selesai dan terlihat “bisa”.

Sebaliknya, dalam Target Pembelajaran, tugas dirancang bervariasi—dari yang sederhana hingga menantang—sehingga murid belajar menghadapi kesulitan dan mengembangkan strategi.

2. Authority (Otoritas)

Dalam Target Performa, guru memberi instruksi rinci. Murid tinggal mengikuti. Pada Target Pembelajaran, guru hanya memberi petunjuk awal. Murid diberi ruang untuk menentukan cara, mencoba, salah, lalu memperbaiki.
 
3. Recognition (Pengakuan)

Di kelas Target Performa, apresiasi diberikan karena tugas dikumpulkan atau hasilnya bagus. Di kelas Target Pembelajaran, pengakuan diberikan pada usaha, proses, dan strategi yang digunakan murid, bukan semata hasil akhir.
 
4. Grouping (Pengelompokan)

Target Performa sering mengelompokkan murid berdasarkan kemampuan, yang tanpa sadar memicu kompetisi keras. Target Pembelajaran mengelompokkan murid berdasarkan cara belajar, sehingga kolaborasi tumbuh dan setiap murid merasa memiliki peran.

5. Evaluation (Evaluasi)

Evaluasi pada Target Performa bersifat umum dan menekankan hasil akhir. Sementara itu, Target Pembelajaran menilai kemajuan individu, proses belajar, dan perkembangan murid dari waktu ke waktu.

6. Time (Waktu)

Target Performa menetapkan batas waktu kaku. Target Pembelajaran lebih fleksibel: penguasaan materi lebih penting daripada kecepatan. Ketika Target Menentukan Pola Pikir Murid

Dalam penelitiannya yang dipaparkan dalam buku The Self-Theories (2000), Prof. Carol Dweck mengamati murid SMP yang mempelajari materi sains baru. Di kelas Target Performa, murid diurutkan berdasarkan nilai dan kecerdasan. Terbentuklah kelompok “murid pintar” yang sering mendapat perhatian. Kesetaraan dipahami sebagai semua murid mendapat tugas, waktu, dan penilaian yang sama.

Namun, di kelas Target Pembelajaran, guru menerapkan prinsip equity (kesetaraan yang adil). Tugas dipersonalisasi, waktu fleksibel, dan perbedaan cara belajar dihargai.

Hasilnya jelas, target Performa cenderung melahirkan Pola Pikir Tetap (PPT) karena murid takut salah dan merasa label “kurang pintar” sulit diubah. Target Pembelajaran justru menjadi ruang tumbuhnya Pola Pikir Berkembang (PPB) karena setiap murid diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Refleksi Akhir

Sebagai guru, pertanyaan reflektifnya sederhana namun mendalam: Apakah kelas kita memberi ruang bagi murid untuk belajar, atau hanya untuk terlihat berhasil? Target bukan sekadar angka di rapor. Target adalah pesan diam-diam yang kita sampaikan setiap hari: apakah kesalahan adalah akhir, atau bagian dari proses belajar.

0 komentar: