| Growth Mindset hingga Peta Pikiran (Sumber: https://kids.frontiersin.org/) |
Dunia
pendidikan terus berkembang seiring dengan temuan-temuan baru dalam bidang
neurosains. Salah satu konsep yang banyak dibahas dan terbukti relevan hingga
kini adalah Pola Pikir Bertumbuh (PPB) atau Growth Mindset yang
dikembangkan oleh Carol Dweck. Konsep ini tidak hanya mengubah cara guru
memandang kemampuan murid, tetapi juga membuka pemahaman baru tentang bagaimana
otak bekerja saat belajar.
|
Growth
Mindset dan Plastisitas Otak Ketertarikan
para ahli neurosains terhadap PPB muncul karena keterkaitannya dengan plastisitas
otak, yaitu kemampuan otak untuk berubah dan berkembang sepanjang hidup.
Saat murid belajar, terjadi aktivitas luar biasa di dalam otak. Sinyal listrik
dikirim melalui jalur yang disebut axon, diterima oleh dendrite,
lalu diteruskan ke cell body sebelum akhirnya membentuk koneksi antar
neuron yang disebut sinaps. Menariknya, ketika murid mengalami kesulitan lalu terus berusaha memahami materi, otak justru membangun semakin banyak jalur baru. Jika proses ini sering diulang, jalur-jalur tersebut akan semakin kuat. Artinya, murid bukan hanya belajar lebih banyak, tetapi juga mengingat dan memahami materi dengan lebih cepat. Kesalahan adalah Pintu Pertumbuhan Pandangan
ini diperkuat oleh Jo Boaler, profesor pendidikan matematika di Stanford
University sekaligus mantan mahasiswa Carol Dweck. Dalam bukunya Mathematical
Mindset, Boaler menjelaskan bahwa saat murid membuat kesalahan, justru
terjadi aktivitas otak yang lebih tinggi dibandingkan ketika mereka langsung
mendapatkan jawaban benar dengan mudah. Bagi
murid yang memiliki Pola Pikir Bertumbuh, kesalahan bukanlah kegagalan,
melainkan peluang emas bagi pertumbuhan otak. Karena itu, Boaler menegaskan
bahwa pembelajaran—khususnya matematika—sebaiknya lebih berorientasi pada Target
Pembelajaran, bukan semata-mata Target Performa. Target
Pembelajaran mendorong murid memahami proses, mengeksplorasi berbagai strategi,
dan berpikir mendalam. Sebaliknya, Target Performa cenderung fokus pada soal
dengan jawaban tunggal dan demonstrasi penguasaan rumus. Pendekatan pertama
membuka ruang deeper learning, sedangkan pendekatan kedua sering kali
hanya berhenti pada hasil akhir. Berangkat
dari cara alami neuron bekerja, seorang pakar otak dan pembelajaran, Tony
Buzan dari Buzan Center UK, mengembangkan sebuah learning tool yang
kini dikenal luas: Peta Pikiran (Mind Map®). Peta
Pikiran dirancang menyerupai cara otak mengelola informasi—tidak linier, tetapi
bercabang, saling terhubung, dan kaya asosiasi. Karena itu, alat ini sangat
mendukung pendekatan konstruktivisme, di mana murid membangun
pemahamannya sendiri melalui proses mengorganisasi dan mengaitkan informasi. Struktur
Dasar Peta Pikiran Secara
umum, Peta Pikiran disusun melalui tahapan berikut:
Agar
lebih optimal, Peta Pikiran dapat diperkaya dengan warna berbeda untuk setiap
cabang, ikon, serta gambar yang relevan. Elemen visual ini membantu otak
mengingat informasi dengan lebih kuat. Note
Taking dan Note Making: Dua Keterampilan Penting Dalam
pembelajaran, Peta Pikiran digunakan dalam dua bentuk utama:
Kedua keterampilan ini merupakan fondasi penting dalam kegiatan membaca, memahami, dan menulis secara mendalam.
Dari
konsep Growth Mindset hingga penggunaan Peta Pikiran, satu benang merah yang
dapat kita tarik adalah: otak belajar paling efektif ketika diberi ruang
untuk mencoba, salah, menghubungkan ide, dan membangun makna. Dengan
memahami cara kerja otak dan menerapkannya dalam strategi pembelajaran, guru
tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menumbuhkan cara berpikir yang akan
dibawa murid sepanjang hidupnya. |
0 komentar:
Post a Comment